Dukung Ngalam Rijik Ngalam Seger dan Ngalam Tahes, DLH Kota Malang Gelar Lomba Kampung Mbois

Kota Malang, www.beritamadani.com – Kota Malang merupakan kota yang terus berkembang, dengan dinamika masyarakat dan pembangunan yang semakin pesat. Tetapi, kemajuan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonominya saja, tetapi kemajuan kota juga harus tercermin dari kualitas lingkungan permukiman, kebersihan wilayah, kesehatan masyarakat serta kepedulian masyarakatnya dalam menjaga lingkungan.

Dalam rangka mewujudkan semangat tersebut. Pemerintah Kota Malang memiliki visi Kota Malang 2024-2029 Menuju Malang Mbois, dan Berkelas, dengan Dasa Bakti Unggulan, yang dijabarkan melalui 10 aktivitas. Diantaranya; Ngalam Seger, Ngalam Rijik, dan Ngalam Tahes.

Dalam mendukung implementasi; Ngalam Seger, Ngalam Rijik dan Ngalam Tahes. Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menyelenggarakan Lomba Kampung Mbois yang merupakan akronim dari; Mandiri, Bersih, Olah Sampah, Indah, dan Sehat 2026. Untuk memberikan pemahaman mengenai indikator dan kriteria penilaian lomba serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup berbasis wilayah.

Dinas Lingkungan Hidup  menyelenggarakan Sosialisasi dalam pelaksanaan Lomba Kampung Mbois yakni; Mandiri, Bersih, Olah Sampah, Indah, dan Sehat. Perhelatan tersebut dilaksanakan di Mini Block Office (MBO) Lantai 4 Hall A pada, Rabu (21/10/2026).

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang mengatakan bahwa penyelenggaraan Lomba Kampung Mbois tahun 2026, merupakan replikasi dari Kampung Bersinar, dan sebagai salah satu upaya Pemerintah Kota Malang melalui DLH untuk mendorong kemandirian, kreativitas, inovasi serta kepedulian masyarakat dalam mewujudkan lingkungan permukiman yang berkualitas. “Disisi lain, kegiatan ini menjadi sarana untuk mengoptimalkan peran masyarakat dalam pengelolaan sampah, penataan dan penghijauan lingkungan serta penerapan perilaku yang bersih dan sehat,” beber Raymond.

Ditegaskannya, pelaksanaan lomba Kampung Mbois ini sejalan dengan program Dasa Bakti Kota Malang, khususnya Ngalam Seger, Ngalam Rijik dan Ngalam Tahes.

“Sinergi Kampung Mbois dengan Program Dasa Bakti Kota Malang melalui Ngalam Seger yakni mewujudkan lingkungan yang segar dan asri. Ngalam Rijik dapat menciptakan lingkungan yang bersih melalui pengelolaan sampah dan pemeliharaan kebersihan lingkungan serta Ngalam Tahes mewujudkan lingkungan yang sehat dan mendukung kualitas hidup masyarakat,” bebernya.

Ia pun menekankan, sebagai awal dari penyelenggaraan program tersebut dilaksanakan sosialisasi penyelenggaraan Kampung Mbois 2026 yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada calon peserta mengenai konsep dan tujuan lomba, indikator dan kriteria penilaian.

“Kegiatan Sosialisasi dilaksanakan melalui penyampaian materi meliputi pengenalan program Lomba Kampung Mbois, konsep Kampung Mbois, indikator dan kriteria penilaian lomba dan mekanisme, tahapan dan persyaratan keikusertaan lomba serta kesempatan peserta dalam menyampaikan pertanyaan, masukan dan klarifikasi,” jelas Raymond.

Pihaknya berharap, sosialisasi ini dapat membangun kesamaan persepsi dan komitmen antara pemerintah dan masyarakat dalam menyukseskan lomba Kampung Mbois.

Hal senada disampaikan Plh Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Tri Santoso menyebut bahwa Kampung Mbois bukan sekedar lomba, namun memiliki nilai gotong-royong yakni sebuah gerakan kolaboratif untuk lingkungan perkotaan yang indah, berkelanjutan dan lestari.

“Kampung Mbois mendukung sasaran pembangunan daerah yang diimplementasikan dalam pengelolaan sampah, limbah dan penghijauan. Ketahanan daerah dengan drainase yang bersih dan mitigasi genangan, infrastuktur berkelanjutan, kesehatan masyarakat serta kolaborasi pembangunan berupa gotong-royong warga dan multipihak,” urai Trisan sapaannya.

Dirinya menyebut, indikator penilaian terdiri dari 5 kriteria yakni pengelolaan persampahan dengan bobot penilaian 35 persen, pengelolaan Ruang Terbuka Hijau poinnya 25 persen, konservasi air dan energi skor 15 persen, pemberdayaan masyarakat bobot penilaian 15 persen serta inovasi pengelolaan lingkungan hidup sebanyak 10 persen.

Peserta sosialisasi terdiri dari perwakilan 5 kecamatan dan 57 kelurahan, Ketua RW atau perwakilan masyarakat calon peserta lomba serta unsur terkait sesuai undangan kegiatan.

“Melalui materi yang disampaikan, peserta memperoleh gambaran mengenai aspek-aspek yang perlu dipersiapkan yakni pengelolaan sampah, penghijauan, penataan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, pemberdayaan masyarakat serta pengembangan inovasi lingkungan sesuai dengan pedoman lomba yang ditetapkan,” jelas  Trisan.

Di tempat yang sama, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan Lomba Kampung Mbois merupakan salah satu upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam menciptakan lingkungan permukiman yang berkualitas. “Program ini juga menjadi sarana dalam membangun kolaborasi antara Pemerintah Daerah, kecamatan, kelurahan, pengurus RW, kader lingkungan dan seluruh masyarakat,” jelas Wahyu.

Disampaikannya bahwa Kata Mbois bukan sekedar identitas atau slogan. Di dalamnya terkandung semangat dan komitmen yang diwujudkan melalui perilaku dan tindakan nyata.

“Mandiri, Bersih, Olah Sampah, Indah, dan Sehat, yang  merupakan lima unsur dan harus menjadi satu kesatuan. Saya ingin menegaskan bahwa Lomba Kampung Mbois bukan semata-mata ajang untuk mencari juara atau penghargaan. Tetapi, harus menjadi pemicu lahirnya gerakan bersama dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola lingkungan,” jelasnya.

Wahyu berharap setiap RW dapat menjadikan Lomba Kampung Mbois sebagai momentum untuk memperkuat gotong royong, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan serta mengembangkan inovasi sesuai potensi wilayah masing-masing.

 “Kepada para camat dan lurah, saya minta agar  mengambil peran aktif dalam menyukseskan penyelenggaraan lomba Kampung Mbois. Lakukan koordinasi, pendampingan dan fasilitasi kepada wilayah peserta. Pastikan masyarakat mengetahui program ini, mengetahui indikator penilaian serta memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif,” jelas Wahyu.

Kemudian, Wali Kota juga mengajak kepada Ketua RW untuk menjadi penggerak perubahan di lingkungan masing-masing. “Bangun komunikasi dengan warga, libatkan kader lingkungan, dorong kegiatan pemilahan dan pengolahan sampah, aktifkan kerja bakti, rawat saluran drainase serta tingkatkan penghijauan dan penaatan lingkungan,” terangnya.

“Saya juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan menjadi bagian penting dari gerakan ini dengan memulai kebiasaan memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai hingga merawat fasilitas umum yang kita gunakan bersama,” pungkas Wahyu Hidayat. (jo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top