December 3, 2022

WWW.BERITAMADANI.COM

Museum Ganesya Menghadirkan Area Edukasi Seputar Kerajaan Singhasari dan Majapahit

 8,824 total views,  2 views today

Kota Malang, www.beritamadani.com – Dalam rangka untuk menjunjung tinggi nilai sejarah dan kebudayaan yang dimiliki bangsa ini, telah hadir di tengah-tengah kita suatu bangunan yang megah dan di dalamnya terdapat berbagai macam koleksi yang patut dilestarikan, terinspirasi oleh Museum Gubug Wayang yang terletak di Jalan RA Kartini No. 23, Mergelo, Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Untuk diketahui Museum Gubug Wayang, merupakan sebuah wahana edukasi budaya, dengan visi mempersatukan bangsa tanpa memandang suku, agama maupun ras.

Adapun koleksinya beraneka ragam, mulai topeng, wayang, gamelan, pusaka, gerabah dan masih banyak koleksi yang telah dirawat oleh tangan-tangan yang peduli dengan budaya dan sejarah.

Menurut Direktur Museum Gubug Wayang Zura Nurja Ana, Museum Gubug Wayang berawal dari sebuah bangunan seluas 3×3 meter pada tahun 1994, yang kemudian mulai mengoleksi berbagai macam wayang.

“Upaya penyelamatan berbagai macam artefak terus dilakukan tanpa henti. Hingga pada akhirnya Tuhan mengizinkan untuk memiliki sebuah gedung yang dibangun oleh Belanda pada 1912,” terang Zura.

Restorasi pun dilaksanakan pada 2014 dan selesai dalam satu tahun. Akhirnya, pada 15 Agustus 2015 museum ini dibuka untuk publik,” lanjut perempuan yang juga menjabat sebagai Direktur Museum Ganesya Hawai Group itu.

Perjuangan itu merupakan bagian dari kesuksesan, tidaklah mudah untuk dapat berdiri secara mandiri. Tetapi semangat Berdikari sangat kuat melekat serta terus berjuang demi mencapai kemerdekaan yang seutuhnya bagi Bangsa Indonesia.

Museum Gubug Wayang menjelaskan alur wayang yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia Non Bendawi oleh UNESCO pada 7 November 2003, secara lengkap dari awal sampai dengan akhir. Dimulai dari wayang relief, wayang lontar, wayang gelar, wayang beber, wayang gedhog, wayang purwa, dan lainnya,” beber Zura.

Zura menjelaskan, Wayang pada hakikatnya terus berkembang hingga sekarang karena sejatinya budaya tidak akan pernah statis tetapi sebaliknya yaitu dinamis. Inilah yang menjadi motivasi Museum Gubug Wayang untuk terus memperbaharui koleksi museum berdasarkan dasar yang benar.

“Koleksi yang ada di Museum Gubug Wayang tidak hanya seputar wayang saja, melainkan juga memiliki koleksi lain seperti keris, batik, topeng nusantara, terakkota, keramik, mainan zaman dahulu, hingga koleksi Si Unyil yang legendaris juga merupakan salah satu koleksi Museum Gubug Wayang, dan masih banyak lagi,” imbuhnya.

Koleksi Si Unyil ini diserahkan langsung oleh Drs.Suyadi, pencipta dan pemeran Pak Raden.

Dilihat dari perjalanan Museum Gubug Wayang ini sebelum didirikan, yaitu telah melakukan kegiatan seni budaya terlebih dahulu sehingga museum memiliki beberapa cabang sanggar aktif yang tersebar di beberapa daerah yaitu di Solo, Yogyakarta, Tulungagung, Mojokerto, Jakarta, Semarang, dan Jombang.

Masyarakat dapat merasakan keaktifan dan keefektifan sanggar yang ada, mulai dari anak-anak yang turut berkecimpung di dunia kesenian sehingga masyarakat dapat belajar untuk menjadikan budaya sebagai pembelajaran penting sejak usia dini,” tuturnya.

Kegiatan aktif di dalam sanggar ini memiliki harapan agar dapat merealisasikan budaya sebagai gravitasi yang seimbang bagi seluruh masyarakat. Dengan demikian Museum Gubug Wayang tidak akan menutup kemungkinan untuk terus menambah sanggar aktif kedepannya.

“Museum Gubug Wayang sebagai ruang aktif berinovasi mempertahankan kebudayaan yang relevan dengan perkembangan zaman juga memiliki program dan kegiatan di dalamnya. Program dan kegiatan yang penuh akan inovasi dan kreativitas agar dapat bijak mengorganisir intervensi budaya luar yang mengarah ke Bangsa Indonesia demi mewujudkan budaya bangsa yang berdikari dan mempunyai identitas budaya sendiri yang lebih maju lagi dari sebelumnya,” tutur wanita 20 tahun ini.

Zura juga menjelaskan, Museum Gubug Wayang dalam upayanya menyatukan bangsa, melalui budaya tentu memiliki perjuangan, dan perjuangan tersebut tentu akan menghasilkan kesuksesan meskipun tidaklah mudah.

Perjuangan Museum Gubug Wayang yang tanpa henti tersebut pada akhirnya berhasil menginspirasi para pecinta seni dan budaya dari wilayah lain di Jawa Timur, ini dibuktikan dengan dibangunnya salah satu museum oleh Hawai Grup Malang, Pak Iwan Kurniawan bersama dengan Pak Yensen, yang diberi nama “Museum Ganesya” berlokasi di Lt-2 dan Lt-3 Hawai Waterpark.

Museum Ganesya akan berperan dalam bidang pendidikan sejarah, seni, dan budaya. Nama Ganesya sendiri merupakan kepanjangan dari Gelar Indonesia Budaya, yang diharapkan menjadi wadah budaya bagi masyarakat yang ingin belajar, berkarya, dan berekreasi.

Museum Ganesya juga berencana menghadirkan area edukasi seputar Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Majapahit, dalam khasanah ekspresi Panji di Hawai Waterpark Malang. (Yuni)