August 11, 2022

BERITAMADANI.COM

Media Online Indonesia

Mas Dhito Berangkatkan Kirab Ritual 1 Suro 1956 Ehe Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri

Kabupaten Kediri, www.beritamadani.comKejayaan Kerajaan Kediri tak lepas dari kemasyhuran Prabu Sri Aji Joyoboyo. Raja yang memerintah pada 1135-1157 Masehi itu namanya begitu dikenal luas masyarakat Jawa bahkan Nusantara salah satunya lewat Kitab Jangka Jayabaya.

Raja Joyoboyo dengan kejernihan batinnya, dipercaya mampu melihat jauh ke depan, membaca peristiwa atau gejala alam dengan menembus dimensi waktu ratusan hingga ribuan tahun yang akan datang.

Mengenang kebesaran Sri Aji Joyoboyo, setiap awal tahun baru Islam diperingati dengan kirab Upacara Ritual 1 Suro di Pamuksan Sri Aji Joyoboyo. Upacara adat yang dimulai dari balai Desa Menang, Kecamatan Pagu itu diberangkatkan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana.

“Saya selaku kepala daerah sangat mensupport kegiatan-kegiatan yang sifatnya untuk instropeksi diri, untuk melihat apa yang sudah kita lakukan dan akan kita lakukan,” kata Mas Dhito, Sabtu (30/7/2022).

Upacara adat ini menarik minat masyarakat untuk datang. Sepanjang jalur dipenuhi masyarakat yang ingin melihat lebih dekat jalannya kirab.

Usai melakukan prosesi di Pamuksan Sri Aji Joyoboyo, kirab dilanjutkan menuju Sendang Tirto Kamandanu yang berjarak sekitar 200 meter. Sendang ini disebut Patirtan, atau mata air yang dianggap suci dan digunakan pada masa pemerintahan Prabu Sri Aji Joyoboyo.

Sendang Tirto Kamandanu yang tetap dilestarikan hingga saat ini berdasarkan keyakinan masyarakat digunakan oleh Prabu Sri Aji Joyoboyo untuk bersuci sebelum parama mokhsa atau kembali menghadap Tuhan beserta raganya. 

“Insyaalloh Pemerintah Kabupaten Kediri akan memperbaiki baik itu tempat kaputren maupun untuk yang putra, itu nanti akan kita rehab,” ucap Mas Dhito.

Chatarina Etty, perwakilan dari Yayasan Hondodento Yogyakarta yang merupakan pemrakarsa dan pemandu jalannya upacara mengakui dua tahun selama pandemi kirab 1 Suro tidak dapat diadakan.

Beruntung, tahun 2022 ini upacara kirab 1 Suro sudah diperbolehkan untuk diadakan sehingga dapat membangunkan kembali semangat berbudaya masyarakat.

“Dengan peringatan 1 Suro ini kita sangat berharap masyarakat di nusantara guyub rukun, toleransi dan gotong royongnya semakin tinggi,” tuturnya.

Dia meyakini peserta yang mengikuti upacara ritual 1 Suro sangat peduli dengan budaya di nusantara. Dia berharap, semua dapat belajar dari keteladanan Prabu Sri Aji Joyoboyo yang merakyat, membawa kebaikan kepada rakyat dan kemakmuran bagi kerajaannya.

Didalam patirtan sendang tirta kamandanu ada sembilan tangga yang mempunyai makna kesempurnaan hidup, hal ini seperti yang disampaikan oleh Dra. Chatarina Etty S.H, M.Pd, M.Si. Beliau menyampaikan, “Di dalam patirtan ini ada sembilan tangga. Sembilan tangga maknanya perjalanan hidup manusia menuju kesempurnaan, kesempurnaan hanya angka sembilan, maka tangga dibuat sembilan yang artinya kesempurnaan hidup. Manusia mencapai kesempurnaan hidup melalui etape-etape maka disusunlah tangga berjumlah sembilan melalui tahapan satu sampai sembilan seperti kehidupan manusia ada susah dan senangnya tapi puncaknya pada tangga ke sembilan dimana kita mencapai kesempurnaan. Angka pungkasane urip ki songo”.

Lindawati Kepala Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri mengucapkan terimakasih kepada Mas Bup yang telah hadir di upacara 1 suro. Tak lupa terimakasih kepada seluruh panitia dan pelaku upacara. Untuk masyarakat karena pandemi belum berakhir Linda berharap masyarakat tetap prokes. (Kominfo Kab. Kediri)