June 25, 2022

BERITAMADANI.COM

Media Online Indonesia

Pentas Kuda Kepang Wahyu Krida Budaya di Sumber Cakarwesi

Kediri, www.beritamadani.com – Paguyuban Kesenian Kuda Kepang  Wahyu Krida Budaya Kecamatan Pesantren mengadakan acara Halal bihalal dengan menggelar pentas seni kuda kepang bertempat di area Sumber Cakarwesi, Jl. Cakarwesi Raya No.50, Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Mingu, 22 Mei 2022.

Sumber Cakarwesi merupakan salah satu sumber mata air dan tempat wisata alam yang ada di Kota Kediri. Tempatnya yang sejuk dan rindang menjadikan magnet tersendiri bagi para pengunjung.

Saat dikonfirmasi awak www.beritamadani.com Tri Suko Priyono perwakilan paguyuban Wahyu Krida Budaya mengatakan, “Teman-teman ketua paguyuban kuda kepang Kecamatan Pesantren mengadakan acara halal bihalal dan ulang tahunnya Wahyu Krida Budaya. Secara teknik kita sudah mematuhi mulai dari perizinan sampai pementasan mematuhi prokes, untuk keamanan sudah berkoordinasi dengan instansi yang terkait”.

Sebelum pementasan berlangsung paguyuban Wahyu Krida Budaya sudah melakukan audiensi dengan Satgas Covid-19, BPBD, Dinkes dan Kepolisian. Sehingga layak untuk pementasan ini dan bisa melaksanakan pementasan dengan baik dan aman.

“Mudah-mudahan nanti seni jaranan bisa main tidak hanya siang sore tapi kembali seperti sebelum pandemi bisa main pedotan (siang malam), penyelenggaraannya bisa normal kembali”, lanjut Tri Suko.

Kesenian kuda kepang khususnya di Kota Kediri sudah dikenal semua kalangan mulai anak-anak, remaja hingga orang tua karena mempunyai ciri khas tersendiri antara lain topeng barongan, pujangganong, ada alat musik yang berasal dari bambu (terompet dan jaranan) dan besi (kenong).

“Sebagai pegiat kesenian jaranan, mudah-mudahan kesenian jaranan bisa masuk ke tingkat yang lebih tinggi yaitu internasional seperti ke UNESCO. Untuk kedepannya harus ada ciri khas kesenian jaranan Kediri, jangan sampai ada negara lain bisa mengklaim kesenian jaranan. Mudah-mudahan generasi penerusnya semakin banyak yang mengkreasikan khususnya yang joget jadi tidak monoton, ada kreasi-kreasi baru”, pungkas Tri Suko. (C-Yo)