0 4 min 1 mth

Jombang, www.beritamadani.com – Sudah 76 tahun Indonesia merdeka, ada banyak hal menarik dari dunia pendidikan di Indonesia. Dari Ki Hadjar Dewantara resmi sebagai Menteri Pengajaran Republik Indonesia (19 Agustus 1945), sampai Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia  (23 Oktober 2019 – sekarang), banyak catatan penting yang menjadi perhatian masyarakat. 

Kita harus selalu mengingat slogan dari Ki Hadjar Dewantara, Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan).

Ditengah pandemi seperti sekarang ini, kita harus mengaungkan Spirit pendidikan yang dibangun oleh Ki Hadjar pada saat itu yang membangun spirit pasca kemerdekaan. Konteks dari masyarakat saat itu sedang dalam tahap membangun mental dan identitas setelah mengalami proses penjajahan yang panjang. Konteks itulah yang menjadi semangat dalam meletakkan dasar pendidikan pada saat itu. Bagaimana masyarakat Indonesia tidak hanya mendapatkan kesempatan belajar, tetapi membangun kembali mentalitas dan wawasan sebagai orang Indonesia. Semangat kebangsaan tersebut telah dilembagakan oleh Ki Hadjar dengan mendirikan Sekolah Taman Siswa di Yogyakarta (1922).

Seharusnya Kemerdekaan yang ke-76 ini tidak hanya dimaknai Kemerdekaan sebagai Bangsa saja, akan tetapi juga harus lebih subtantif seperti salah satunya kemerdekaan dibidang pendidikan, karena salah satu cita-cita para pendiri bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, walaupun kita ketahui bersama saat ini kita masih berada pada situasi yang terpaksa serba online.

Pada saat ini, program pendidikan yang ditawarkan oleh Pak Nadiem melalui Merdeka Belajar Kampus Merdeka, merupakan sebuah respons terhadap perubahan sosial yang sedang berkembang. Bagaimana lembaga pendidikan tidak hanya menjadi konsumen dari apa yang sedang berkembang di masyarakat.

Lembaga pendidikanlah yang seharusnya menjadi produsen dari perkembangan media dan teknologi yang ada. Berbagai temuan dalam media dan teknologi, tidak hanya dikuasi oleh perusahaan-perusahaan besar. Lembaga pendidikan harus menjadi bagian dari itu, agar produksi pengetahuan di sekolah dan perguruan tinggi dapat memjembatani permasalahan sosial yang ada.

Namun konsekuensi menjalankan Program Pendidikan di Indonesia memang bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak ada konsep dan Program Pendidikan yang ideal, apalagi disituasi yang seperti sekarang ini.  Sebaik apapun konsep dan Program Pendidikan dari seorang menteri pendidikan selalu berhadapan dengan kenyataan yang ada di masyarakat itu sendiri yang cukup beragam. Kenyataan tersebut yang membuat Program Pendidikan mengalami dinamika.

Momentum 76 tahun Kemerdekaan Indonesia, setidak-tidaknya kita dapat merefleksikan dua hal penting dalam pendidikan.

Pertama, keberhasilan Program Pendidikan ditentukan semua komponen masyarakat. Pemerintah adalah pemberi regulasi, dana dan akses. Yang menentukan keberhasilan dari Program Pendidikan itu sendiri adalah semua komponen masyarakat.

Kedua adalah kita harus mengakui bahwa trend Pendidikan di Indonesia, ukurannya masih ditentukan oleh berapa banyak yang sudah berpendidikan dan berapa banyak yang sudah bekerja. Pertanyaan penting lainnya, berapa banyak yang telah melakukan sesuatu di luar dari sekadar bisa sekolah dan bekerja, misalnya, menciptakan sesuatu yang pada akhirnya memberi dampak bagi masyarakat, belum menjadi sesuatu yang mainstream.

Terakhir, Momentum 76 tahun Indonesia Merdeka adalah momentum yang baik bagi kita semua untuk merefleksikan kembali langkah selanjutnya, apa yang harus kita lakukan untuk mengisi Ruang Pendidikan kita ditengah situasi sosial yang terus berkembang. Tantangan sosial yang kita hadapi terus berubah. Pilihan masyarakat yang semakin beragam.

Inilah momentum yang tepat bagi kita semua sebagai bagian dari masyarakat yang hidup didalam situasi sosial saat ini, bagaimana terus melakukan hal-hal yang bisa kita lakukan. Dari masyarakat yang berpikir, bertindak, dan terus berkembang yang akan menentukan arah dan dampak bagi masyarakat dan dunia pendidikan yang ada.

Penulis: Presnas BEM Pesantren M.Naqib Abdullah, Editor: Tim BMK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *