Blitar, www.beritamadani.com – Lembaga Pelindung Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN) kembali akan menyelengarakan hajat besar yang diagendakan pada Tgl. 27 Juni 2021, yaitu Kirab Tumpeng Agung Nusantara Gotong-royong yang ke-10, dengan tema”Kumambange Watu Item”. Sebelum acara ini semua anggota Panitia KTAN Gotong-royong ke-10 melaksanakan ritual jamasan yang dimaksudkan untuk membersihkan sukerto dan sukerti, bertempat di Candi Palah Penataran Blitar, Minggu (20/6/21) siang.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua LP2BN Ki Aris Sugito bahwa ritual jamasan yang dilaksanakan di Candi Palah Penataran ini diikuti semua anggota Panitia KTAN Gotong-royong ke-10. Satu persatu anggota Panitia dijamasi dengan air suci atau tirta bathara yang diambil dari beberapa tempat suci yang disatukan, serta dengan didoakan oleh sesepuh LP2BN.

“Dikesempatan hari ini di Tgl. 20 bulan Juni 2021, kita mengadakan acara adat kita yaitu jamasan, jamasan ini kita adakan sebelum acara besar, yaitu acara besarnya adalah KTAN yang ke-10 ditahun ini dan kebetulan tepat hari Peresmian Candi Palah Penataran yang ke-824. Jamasan kita laksanakan di sini dengan tujuan, semua panitia sebelum melaksanakan acara besar yaitu membersihkan diri terlebih dahulu yang disebut jamas suci, yaitu mandi besar. Di sini untuk membersihkan sukerto dan sukerti para Panitia yang nanti akan melaksanakan KTAN Gotong-royong di Candi Palah Penataran.

Ditahun ini temanya adalah “Kumambange Watu Item”, artinya adalah ini sudah waktunya, sudah saatnya munculnya sesuatu yang berbobot, sesuatu yang sangat berguna bagi Nusa dan bangsa. Apakah sesuatu yang berbobot itu, ya kita lihat nanti, itu masih rahasia alam yang nanti kita lihat apa kejadian apa yang akan terjadi. “Kumambange Watu Item” ditema inilah mudah-mudahan berguna bermanfaat bagi Nusa dan bangsa kita,” jelas Ki Aris Sugito, (20/6/21).

Ketua LP2BN Ki Aris Sugito menambahkan, bahwa air suci untuk acara jamas suci ini diambil dari beberapa tempat suci.

“Sebelum jamasan ini acara kita adalah acara Piuning, ngawoningi  para leluhur yang ada di daerah Blitar dan sekitarnya, yang kemarin kita mengadakan Piuning sekaligus mengadakan Mendak Tirta. Mendak Tirta ini yaitu mengambil air suci yang dari Situs Rambut Monthe, Candi Kotes, Candi Sawentar, Candi Simping, Candi Mleri, Candi Kali Cilik, Makam Bung Karno dan Candi Penataran serta ada tambahan satu dari Gunung Tidar. Ya ini, air yang kita gunakan untuk jamasan para panitia ini yang kebetulan kita laksanakan di tgl. 20/6/21, pas harinya Minggu,” tambah Ki Aris.

Di tempat yang sama, Romo Lukmin selaku sesepuh senada dengan Ketua LP2BN, menjelaskan bahwa para sesepuh baru saja melaksanakan upacara Adat Jawa atau Budaya Jawa yaitu Padudusan Agung, yang dijamasi adalah semua anggota Panitia.

“Kami sebagai kasepuhan dari LP2BN yang baru saja melaksanakan upacara Adat Jawa atau Budaya Jawa yaitu jamasan atau Padudusan Agung, yang mana yang dijamasi adalah semua anggota panitia dari Panitia dari LP2BN karena akan mengadakan yaitu upacara agung, Kirab Tumpeng Agung Candi Palah Penataran yang ke-824, yaitu diperingati oleh LP2BN dan kami sebagai sesepuhnya.

Tadi diadakan upacara yaitu jamasan atau Padudusan Agung, yang mana untuk menjamasi itu bukan sembarang air, tapi tirta bathara dari yaitu situs Candi ┬ápertama dari Candi Rambut Monte, Candi Kotes di Kec.Gandusari, Candi Lwang Wentar dari Kec.Garum daerah Sawentar, Candi Simping Kec.Kanigoro di Sumberjati, Candi Mleri di Srengat Kec.Ponggok, Candi Kali Cilik di Ponggok dan tirta dari Makam Bung Karno, tirta Candi Palah Penataran sendiri, tirta dari Candi Gambar Wetan, tirta dari Puncak Gunung Tidar,” jelas Romo Lukmin.

“Tirta-tirta diperoleh dari atur piuning, mohon tirta suci dari bathara-bathara dari leluhur yaitu daya atau powernya tirta untuk membersihkan yaitu wargo agung LP2BN dan semua yang dimohonkan yaitu warga Nusantara atau Indonesia semua dan memayu hayuning bawono, supaya NKRI harga mati, Pancasila tetap jaya, UUD 1945 menjadi pedoman oleh Pemerintah dan kemudian Bhinneka Tunggal Ika tetap lestari di Negara Indonesia atau Nusantara ini dan supaya utamanya bangsa atau masyarakat itu guyup-rukun seger waras, dimohonkan kepada Tuhan yang Maha Esa, leluhur dan utamanya kepada penglisir-penglisir atau sesepuh-sesepuh yang sudah di alam niskala,” pungkasnya. (Tim Publikasi LP2BN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *