0 3 min 8 mths

Malang, www.beritamadani.com – Menumpuknya stock gula di 2 pabrik Gula di Malang, yakni PG Krebet dan PG Kebon Agung, mengundang keprihatinan beberapa asosiasi pengusaha Malang Raya. Hal itu disampaikan Indra Setiyadi salah satu pengusaha restoran yang juga menjabat sebagai Ketua Apkrindo (Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia) Malang, Jumat (29/1/21).

Menurut Ketua Apkrindo Malang Indra Setiyadi yang juga pemilik RM Kertanegara ini, bahwa penumpukan gula lokal yang diketahui mencapai 62 Ton di 2 pabrik dan tidak terjual, karena harganya kalah bersaing dengan gula import. Oleh karena itu ia berharap peran serta pemerintah dalam menentukan kebijakan lebih berpihak pada gula rakyat.

“Harapan kami, pemerintah lebih bisa mengontrol karena harus lebih prioritas gula rakyat daripada gula import,” ungkap Indra Setiyadi.

Lanjut Indra Setiyadi keprihatinan ini murni respon spontan melihat menumpuknya stock gula di 2 pabrik gula di Malang, tentunya akan berpengaruh kepada petani tebu. Tidak ada kepentingan apapun karena ia merasa orang awam di dunia gula, tetapi yang pasti merupakan konsumen yang menggunakan gula. Semata-mata membantu permasalahan para petani tebu di Malang Raya.

“Untuk membantu petani tebu Malang Raya ini, kita menghimbau teman-teman untuk membeli produk gula lokal, supaya bisa terserap,” ujarnya

Selain dari Apkrindo respon datang dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Malang dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Malang.

Ketua PHRI Malang Agus Basuki mengatakan pihaknya sangat mendukung gerakan membeli gula lokal.

“Kami mendukung gerakan membeli gula lokal karena hal ini untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal khususnya,” katanya.

Sependapat dengan 2 asosiasi lainnya  Ketua APPBI Malang Suwanto juga menyampaikan bahwa turut prihatin atas kondisi tersebut.

“Makanya kami beberapa asosiasi bermaksud untuk berkumpul guna membahas masalah ini. Kami mencoba bisa turut andil dalam membantu menyelesaikan masalah. Selain itu ia berharap pihak pemerintah menindaklanjuti persoalan ini, paling tidak mengatur regulasi agar memprioritaskan gula lokal,” katanya.

Menumpuknya stock gula di 2 pabrik gula di Malang ini rupa-rupanya benar menimbulkan permasalahan sendiri kepada petani ataupun pengusaha tebu di Malang. Seperti yang dikatakan salah satu petani dan pengusaha tebu yang juga istri kepala desa dari wilayah Kec.Jabung Kabupaten Malang, mengatakan bahwa dengan permasalahan ini pembayaran tebu dari pabrik menjadi kurang lancar.

“Iya memang ada masalah saat ini, kita kirim tebu terus tetapi pembayaran lama,” tuturnya.

Terkait dengan gerakan menggunakan gula lokal ini, ia sangat berterimakasih kepada asosiasi   Apkrindo, PHRI dan APPBI yang mau memperhatikan nasib para petani tebu di Malang Raya. (A.Maria)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *